Tag Archives: selingkuh dengan sekretaris

Teman Kantorku Ternyata…

5 Aug

Download

Jarum jam tanganku menunjuk ke angka 7 malam, tapi container belum juga selesai di muat, hufh… sialan banget, kapan aku bisa pulang on time, kalo jam segini belum juga dimuat barangnya. Aku mengumpat dalam hati. Beginilah nasibku yang masih tetap jadi karyawan bagian export di perusahaan garment.

Jabatanku memang supervisor, tapi karena jabatanku juga membuat jam kantorku tak menentu. Aku melangkah ke gudang muat di belakang, guna mengusir kepenatan. Maklumlah kalau di pabrik garment karyawan 80% perempuan muda lulusan sma, yahh lumayan ada sebagian yang memiliki paras cantik asli perempuan desa tanpa make up. Aku perhatikan seseorang yang dari tadi selalu curi-curi pandang ke arahku. Sosoknya lumayan cantik, dengan ukuran dada yang lebih menonjol dari pada teman-temannya seusianya yang kurang lebih 20-21 th. Belakangan Ayu namanya. Aku perhatikan saat aku sedang mengawasi container, dia selalu curi-curi pandang ke arahku. Aku memang pura-pura tidak tau walaupun dia juga sebenarnya menarik perhatianku.

Lebih dari 2 jam proses muat belum juga selesai, aku melangkah ke kantor marketing. Aku temui Atin, staf marketing yang bertanggung jawab langsung atas pemuatan barangnya. “ Tin, kenapa lama sekali muatnya, sudah jam 9 malam. Kapan mau pulang alo jam segini belum beres!!. “ maaf pak, tadi ada masalah carton jadi agak lambat muatnya. Tenang deh pak pasti beres” jawabnya. “ Beres-beres…dari tadi gitu melulu, mana perut lapar” timpalku kemudian.” “ nih pak, ada biscuit lumayan buat ganjal perut endutnya”, sambutnya sambil melirik genit. Terpaksa aku sikat juga tuh biscuit, ludes. “ Tin tolong awasin yah muatnya, aku mau pulang capek, besok kamu laporan ke saya kalau ada masalah” Baik boss..laksanakan.” itu jawabnya dengan gaya seorang polwan.

Atin sosoknya memang biasa saja, badannya yang cenderung padat, rambut pendek sebahu. Hanya saja Dadanya begitu menantang, dan itu yang menjadikanku betah kalau berhadapan dengannya.
Tuuut.tuuutt.. Telpon mejaku berbunyi membuyarkan konsentrasi kerjaku”

Halo pak Aji, ini Atin mau melaporkan tadi malam selesai jam 10, dan ada beberapa carton tidak bisa masuk container pak, gak muat, gimana yah.” ugh..masalah lagi gumanku, Oh please jangan sekarang, dimejaku sudah menumpuk masalah yang menunggu giliran aku selesaikan ”Ya udah nanti jam 4 sore aku ke belakang” jawabku singkat lalu “ Blak..” aku tutup gagang telepon dengan keras. Jam 6 sore lewat selepas maghrib aku baru ke gudang belakang menemui Atin “ Gimana caranya bisa gak masuk! Kan sudah saya hitung, dan harusnya ada space kosong, bukannya kurang kayak gitu” dengan nada keras aku marahi beberapa staf di gudang. “ sekarang kamu bikin laporan tertulis dan kasihkan ke manajer saya” lalu aku masuk ke ruang marketing dan duduk disana bermaksud mendinginkan hati. “ Maaf ya pak, kami membuat masalah lagi”.suara Atin memecahkan keheningan. Aku memandangnya, aku perhatikan dia dari ujung rambut sampai kaki, hmm..tubuh yang padat berisi, “ Ya sudah, bukan masalahku kok, tapi masalah pabrik, makan yuuk sudah jam 7 nih..” Bapak bayarin yah, lagi tanggal tua nih” Okelah aku yang bayarin, karena kau yang ajak..

Aku pacu motorku ke warung lesehan kurang lebih 3 km dari tempatku bekerja, aku pesan soup kambing dan sate kambing, dia hanya memesan nasi goreng , terserah lah gumanku..toh aku yang lapar. Hanya butuh waktu 15 menit untuk menghabiskan hidangan didepanku. Selesai makan aku ajak ngobrol Atin, hmm. Dari jarak dekat memang menarik dilihat, sepertinya masih gadis. Aku memang tidak tau banyak dan gak ada waktu untuk cari tau pribadinya. “ Kamu tinggal dimana? “di kos dekat pabrik pak, tuh disana” sambil menyebut alamat kos dia..”oh..disana, kost sendiri? “ iyah Pak habis suami jarang pulang pak, luar kota terus” Damn..sudah menikah ternyata umpatku, aku pikir masih gadis,”

Sudah punya anak berapa? Pancingku kemudian.” Satu mas, tapi di jawa dengan nenek” hufh..sudah punya anak pula?? tapi tubuhnya masih sintal, padat dan entak kenapa dia merubah panggilannya dengan sebutan”mas”. “ohh. Hanya itu jawabku..” aku tadinya tinggal di bogor, di rumah dengan adik sepupu dan suamiku, tapi akrena suamiku bagian proyek, sering ada proyek diluar kota, jadi aku putuskan kost dekat pabrik, supaya gak capek pulang pergi bogor” banyak kemudian yang dia ceritakan ke padaku dan entah kenapa disandarkan kepalanya di bahuku, aku perhatikan air matanya mulai menetes dipipinya.

Aku merasa ada masalah yang ingin di utarakan tapi tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Aku beranikan memeleluk bahunya dari samping dan mengusap air matanya yang menetes, dan tanpa sadar mata kami beradu dekat sekali, sampai terasa hembusan nafasnya. Aku hanya memandang kosong entah apa artinya, dan entah siapa yang memulai, sesaat kemudian bibir kami bertemu, aku dapat rasakan gemetar di bibirnya, lembut dan hangat. Atin hanya melengkuh pelan “ uhm..mas..lalu aku beranikan menghisap lembit bibir bawahnya, mmhm yang membuat dia mengangkat dadanya, dan ditekankan ke dadaku, ugh..sangat kenyal dan terasa hangat. Kami baru tersadar bahwa kami sedang ada di bilik rumah makan lesehan, dan dibelakang kami ternyata beberapa karyawan sedang memperhatikan kami dari tadi. “ udah tin…aku tidak tau apa ini artinya, tapi aku hanya bisa mengatakan aku merasakan kehangatan kamu” Iyah mas, aku juga merasakan hal yang sama, tapi aku gak berani berharap terlalu tinggi, karena aku tau mas sudah berkeluarga “ jawabnya kemudian..aku hanya memberikan senyuman kepadanya….

Aku bergegas bangkit dan menuju ke kasir, untuk membayar makanan, aku lihat beberapa mata melihatku dengan senyum-senyum penuh arti…aku hanya cuek dan melangkah pergi setelah urusanku dengan kasir selesai….

Besoknya aku dan Atin semakin dekat saja, di sela-sela waktu kerja kami sempatkan selalu menyapa dan bercanda lewat telpon. Tidak seperti dulu, kaku dan seperti musuh saja.

“ Mas Aji makan siang dimana, bareng yuk..Jumatan khan istirahatnya lama” sapa Atin lewat telpon memaksaku mengentikan sejenak konsentrasi kerjaku.” Makan di Rumah Makan Solo kayaknya deh..tapi okey deh yuuk makan bareng” lumayan ada waktu 2 jam untuk melepaskan penat dengan Atin pikirku..
Tepat jam 11.30 Atin sudah menunggu di depan pabrik,” makan dimana kita Tin..”
“Ehm… gimana kalo kita beli saja mas, lalu makan di kosta ku”
wah…ada angin apa nih pikirku” Okeylah”, lalu kupacu motorku ke RM.Padang langganan, beli 2 bungkus nasi dan segera melaju ke Kostan Atin. Suasananya sepi karena sebagian besar yang kost disana karyawan.

Sambil makan kami selingi dengan candaan yang kadang mengarah, tapi kami tetap jaga sikap karena belum lama dekat. “ mas malem sabtu temani beli baju yah, Atin pengen jalan tapi gak ada teman”..Boleh, selesai kerja aku anterin kamu yah..” Okey deh “ sahut Atin sambil mengecup pipiku,
Dengan alasan pekerjaan aku sms istriku bahwa aku akan pulang malam. Dua jam lebih aku temani Atin memilih-milih baju dan kahirnya menemukan yang dicari, setelah selesai dibayar aku kembali antar Atun ke kostnya.

“ Kenapa Atin?? kok sedih gitu, gak suka baju yang sudah dibeli , atau sakit?” aku tempelkan telapak tanganku di dahinya “ gak panas kok” kataku kemudian..
“ gak ada apa-apa mas, hanya kangen pengen pulang ke bogor saja..gak apa-apa kok”..jawabnya pelan dengan mata berkaca-kaca
“ Atin ingin pulang ke bogor..Mau mas antar”
“gak usah lah mas, nanti gimana istri mas, nanti dicariin loh?”
“Ya udah sebentar yah..” aku kemudian keluar kostnya dan menelpon istriku
“ Mah…ada masalah pekerjaan nih, papa harus keluar kota ke Pabrik patner, karena emreka gagal penuhi proyek untuk ekspor sabtu besok, gak papa yah, kemungkinan menginap”..
“ Okey deh pap, hati-hati diselesaikan..jangan lupa makan malam yah” jawab istriku di ujung telpon..
Aku kembali masuk ke kostan dan melihat Atin yang masih terduduk diam. Aku duduk di hadapannya dan kubelai rambut pendeknya.
“Atin, jangan sedih yah, ayuuk berkemas..mas anterin kamu ke Bogor”
“bener mas..bisa anterin?” sahutnnya gembira
“iyah, ayuuk nanti kemalaman, lagian kayaknya mau hujan tuh”

Segera dia memasukan beberapa baju ke tas rangsel kecilnya” ayuk mas ..aku udah siap”
Lalu kupacu motor ku sekencang-kencangnya, perjalanan Bekasi – Bogor yang biasanya 2 jam aku tempuh cuman dalam 1 jam.
Sekitar jam 11 malam kami sampai di rumah kecilnya di bogor tetangga kanan kiri rupanya sudah terlelap dalam tidurnya masing-masing..” Mas.motornya dimasukan ke dalam saja, aku mandu dulu yah” lalu dia berlalu ke kamar mandi yang bisa diliat dari ruang tamu
Sementara aku duduk di ruang tamu setelah memasukan Motorku ke ruang tamu.

“mas mau mandi juga gak..teriaknya dari dalam kamar mandi”
“nanti lah Tin, masih dingin angin nih”
Selesai mandi, Atin keluar mengenakan daster merah dan terlihat sangat sexy. Penisku meregang melihat sosoknya dengan rambut basah dan lampu ruangan yang temaram, sungguh sangat menggugah hasrat sex ku ..
“mas mo nginep di sini saja khan? Sudah jam segini, nih kalo mau mandi” Tia memerikan handuk kepadaku

Aku hanya diam segera melangkah ke kamar madi. Entah kenapa aku tak bisa berkata-kata di depan Atin saat itu, entah karena pesonanya atau karena hasrat sex ku yang sedang membumbung tinggi.
Di kamar mandi aku sudah membayangkan betapa malam ini akan emnjadi malam yang indah berdua dengan Atin, dan peniskupun sudah berdisi tegak, rupanya tak sabar menemui teman barunya.
Usai mandi aku berjalan melewati kamar Atin yang rupanya tidak ditutup pintunya, dan lampu kamar yang sudah dimatikan, namin samar tetap bisa kulihat tubuhnya yang tidur tengkurap…hm..rupanya dia lelah setelah seharian bekerja..gumanku.

Ku beranikan memasuki kamar dan bertanya pelan “ Tin aku tidur dimana..” rumah itu memang kecil dan hanya memiliki satu kamar tidur, sedang di ruang tamu hanya ada sofa dan satu kasur tikar di depan tivi. “ Tidur di sini saja mas…” sambil tangannya menarik tanganku..
Dan reflek aku langsung mencium bibirnya dengan lembut, Aku kulum dan aku hisap pelan bibirnya’ Uhmm…mass…..” hanya desahan lembut yang kudengan dari mulutnya. Mulutku semakin liar mecium bibirnya, ku julurkan lidahku lebih dalam ke rongga mulutnya, lidahku liar mencari lidah Ati, setelah kudapatkan, aku hisap lembut lidahnya “ uhmm..uhmm..” erangnya pelan karena mulutnya terlutup bibirku..

Tanganku yang dari tadi membelai dan meremas bongkahan pantatnya kini merambat ke dada, mencari gundukan daging besar yang selama ini hanya bisa ku pandangi dari luar bajunya.” aach..mass…, lepaskan saja Bhnya” pintanya..
Tanpa menunggu lagi aku lepas kaitan Bhnya, dan sepasang payudara berukuran 36 terpampang di depan mataku. Dan segera bibirku berpindah dari bibirnya turun menyusuri leher lalu ke dadanya yang sangat padat… aku jilat sekeliling dadanya dengan lembut dan sesekali aku sedot pelan.. “ ach…mass…enak… aku hisam putih susunya yang sudah mengeras. Sementara tanganku yang satunya meremas dadanya yang satunya dengan lembut..sungguh dada yang lembut dan padat, sepertinya sangat jarang di sentuh suaminya. Tidak sampai 10 menit, tubuhnya menegang kaku, lalu mengejang dan mengerang keras’ eehhh…mas…aku dapat……aahhh.mas..aku dapaatt….

Tapi aku tidak pedulikan, dan tangaku langsung me raba ke selangkangannya yang sudah dibanjiri air kenikmatan…” ach…mas….enak masa..” Kumainkan jemariku di itilnya yang menonjol.. aku pilin-pilin pelan itilnya dengan mulutku tetap menghisap-hisap putihnya. Tidak sampai lima menit tubuhnya kembali mengejang dan mulutnya mengerah keras..”hhmmm….masa..aku dapat lagi…mas…oh..mas….enak…”

Gampang sekali dia mendapatkan orgasme , gumanku dalam hati, baru aku ciumin putingnya dan mainkan itilnya saja sudah mendapatkan dua kali orgasme.

Mulutku tak sabar untuk segera mencium memeknya yang sangat mengguda, dan aku pindahkan posisiku menjadi 69, aku paksakan mulutnya menghisap kontolku yang dari tadi sudah meneteskan air rangsangan..dan aku jilat memeknya, aku hisap itilnya lembut, dan aku mainkan dengan lidahku.. terasa lembut dan kenyal itilnya. Walaupun hanya samar aku bisa lihat memeknya karena penerangan ruangan yang sangat redup, tapi itu sudah sangat membangkitkan gairahku.

“hmm….ttiin..” aku sesekali mengerang menahan nikmatnya hisapan mulutnya ke penisku, dalam posisi aku diatas seperti itu penisku bebas menggantung ke bawah, sehingga Atin dengan mudah menghisap penisku sampai pangkalnya.”acchh..Atin
…enak banget”…
“hmmm…” hanya suara itu yang keluar dari mulutnya yang penuh menghisap penisku..
Lidahku semakin intensif merangsak masuk ek lubang memeknya, dan beberapa menit kemudian tubuhnya mengejang, dan dia kembali menggapai puncak kenikmatan..
“mas…sudah mas….cukup mas….” kepalaku di dorong menjauh dari memeknya ..

Penisku yang dari tadi sudah mengeras maksimal segera ku arahkan ke lubang memeknya, aku gesek-gesekkan sebentar ke bibir memeknya dan itilnya, Atin hanya melengung panjang.” uuhhhh..masssss…” Pelan-pelan aku masukan kepala penisku ke dalam ememknya, terasa berdenyut-denyut memeknya , mungkin sudah beberapa lama memeknya tidak dimasuki penis… Aku tarik keluar dan kembali aku dorong penisku masuk, dan aku paksakan masuk sampai ke pangkalnya. “ aachh….uhhh..ATin, memek kamu nikmat banget”…
“iyah mas…udah setahun suamiku belum menyentuhku”

Aku semakin memacu penisku, ku pompakan keluar masuk memeknya, bunyi keciplakan benturan penisku dengan dinding -dinding memeknya terdengar keras, mengiringi goyangan kami. Sementara mulutku terus aktif menghisap putihnya, bergantian kiri dan kanan. “ aufhh..mas…aufh,…mas…“ehhmm…mas…aku mau sampai lagi…” erangnya… dan aku lebih mempercepat ritmi kocokan penisku ke dalam ememknya, lima menit kemudian, dia mengerang keras…”aaahhhhhhhh..masssssss…aku sampaaaaaii…”…
“iyah sayang…lepaskan, dan tuntaskan….” jawabku….
“iyah mas…..iyah..” tubungnya menghentak-gentak kasur yang telah basah oleh keringat kami.

Aku miringkan tubuh Atin yang sudah terkulai lemas menghadap ke kanan, kaki kanannya aku biarkan luruh ke bawah, dan kaki kirinya aku angkat ke atas, lalu aku masukan penisku menyamping, dan ini rupanya memberikan sensai beda buat Atin” acchh…mas….nikmat…”ach…aku gak akan tahan lama dengan gaya ini mas..ach..ach..aah..”..mulut Atin terus mendesah dan mengeang menahan nikmat di memeknya…sementara aku terus mengocok keluar masuk penisku dari samping, dan memang dengan gaya ini penisku makin terasa dijepit dinding memeknya yang terasa hangat dan sangat menggigit..” “Atin, bentar lagi aku keluar..mau dikeluarin dimana”…

“ Maunya dimana mas…. didalam juga gak apa-apa, aku masih ada KB kok”..ahh..ahh…aakku juga mmau dapat…, kita bareng mas”…”iyah Tin…kita barengan..ach…Tin..AKu keluar…..acchh….serr..ser…ser….terasa tiga kali semburan spermaku saat menyembur di dalam liang kenikmatan Atin, dan itu membuat Atin kembali mendapatkan orgasmenya..” iyah mas..aku juga dapaat..mass…achh…….achh…” tubuhnya kembali mengejang…. mendapatkan orgasmenya yang terakhir…

Aku biarkan penisku tertahan beberapa saat di dalam memeknya, sambil merasakan sensasi denyutan memeknya yang sedang berdenyut-denyut pasca orgarme berulang-ulang yang dia dapatkan…
Setelah beberapa saat tubuhku limbung dan ambruk ke samping Atin, tak ada kata-kata yang terucap dari mulutku, hanya senyuman kecil penuh arti sebagai tanda aku sanagat menikmati permainan nya…
Lalu kamipun terlelap berpelukan tanpa busana, tak peduli keringat masih membasahi tubuh kami di kamar kecil yang memang tidak ber AC, hingga pagi menjelang…

Mataku masih terasa berat, pertempuran ranjang semalam ternyata sangat menguras tenaga hingga tak terasa sudah jam 7 pagi, tapi badanku masih sangat lelah.. Aku memang bukan tipe cowok petualang sex, tapi permainan semalam memberikan kenangan tak terlupakan, dan memang baru malam tadi aku melakukan hubungan ranjang dengan wanita selain istriku…
Sementara Atin masih tertidur tengkurap tanpa busana , selimut dan seprei berantakan tak beraturan. Yah memang semalam kami main tanpa penerangan lampu, hanya sedikit pantulan cahaya dari ruang depan.. Baru aku sadari kalau di tebok sebelah kananku terpajang foto Atin dengan suaminya dalam busana pengantin. Aku segera bangkit dan membangunkan Atin, bukan karena melihat foto itu, tapi aku teringat ceritanya kalau dia tinggal berdua dengan keponakannya

“ Atin…Atin…bangun, udah jam 7,…. Katamu adikmu kerja shift 3, harusnya jam segini dia pulang…”..
“eeeehmm…..” Atin menggeliat ..” hah..jam berapa seakrang” Atin bergegas bangun..” Sudah hampir jam 7” kataku…
Atin kemudian terdiam dan memandangi foto pernikahannya lalu berkata ” Maafin aku yah mas…”… seketika aku bangkit dan menuju kamar mandi…
Ada perasaan kesal dan cemburu, walaupun sampai detik ini pun aku masih belum tau apa status hubungan kami, kata cinta dan sayang belum sekalipun aku ucapkan..

Aku siramkan gayung berisi air dingin itu ke kepalaku, mendinginkan pikiranku yang sesaat kacau…
“tok..tok…tok….mas…mas… mas kenapa? Marah yah” Atin mengetuk pintu kamar kamdi yang aku kunci. “ Gak apa-apa kok, aku hanya mau mandi” Sahutku .” Beneran gak apa-apa yah” Tanya nya kemudian..” Iyah…aku hanya ingin mandi..udah lengket keringet gak enak rasanya” jawabku sambil menggosokan Sabun ke seluruh badanku..

Sesaat suaranya menghilang, sampai aku selesai mandi dan keluar dengan lilitan handuk, aku tak menemukan Atin.
Tiba-tiba Atin muncul dari dari pintu depan, membawa kantung plastic berisi belanjaan sayur… “ Mas mandinya lama, jadi aku ke depan belanja ini buat sarapan pagi” sambil menunjukan sekantung penuh tas plastik berisi belanjaan sayuran..” Muuuach maafin aku yah mas kalau aku tadi keceplosan ngomong gitu di kamar” tiba-tiba dia mengecup bibirku manja…

“oh iyah mas.. Dina keponakanku sms pulang kerja dia ke rumah temannya, jam 11 siang baru pulang” katanya kemudian “ Oh..gitu ya sudah mandi sana, bau kecut banget juga pede banget keluar belanja..” jawabku singkat. “ Tapi doyan khan..” jawabnya sambil berlalu dan meremas penisku yang masih layu dibalik handuk…” Ihhh..kecil banget” kayaknya semalem kekar.” godanya kemudian dan tangannya membuka penutup handuk, diraihnya penisku yang mulai mengembang tapi belum maksimal” Coba aku pingin liat lagi full sizenya ach..” katanya kemudian diraih penisku, dan di kecupnya lembut, seketika penisku bangkit dan memperlihatkan ukuran sebenarnya, tidak terlalu besar sih standar ukuran indonesia saja, tapi cukup tanggung untuk menghadapi perempuan yang terlihat haus sex seperti Atin ini.

“Mmmff..hmm.”…suaranya mulutnya saat mengisap penisku. Di jilatnya lembut dari kepala, batang hingga kantung penisku..” Acchh…tiiinnnnn….” aku hanya mengerang dan tanganku berusaha meraih selangkangannya, namun di tangkisnya “ Udah mas….kali ini aku hanya mau mas saja yang dapat”.
“uughh..cuuurang…ehmm..” jawabku parau karena merasakan sensasi sedotan mulutnya. Terpaksa tanganku hanya bisa memegang kepalanya dan mendorong maju mundurkan kepalanya supaya posisi penisku pas di sudut mulutnya”..eehhhmm..tin..enak…..ehhm…” tak sampai 15 menit terasa ada yang mau keluar daripenisku’ “ehmm..tin..aku hampir keluar”….dia hanya mengacungkan jempolnya tanda oke saja dikeluarkan..”

aachmm…aachh..TTiin..aku keluar”..sesaat kemudia terasa ada yg bergerak dari kantung penisku menuju puncak kepala menisku…serr..ser….seer…terasa 3 kali spermaku keluar dari penisku, dan Atin tak mempedulikan dan tetap mengisaphisap penisku..” Augh…Tin..ngilu..Augh..” aku hanya tersedak-2 menahan ngilu pasca orgasme. Atin lalu menyudahi dengan sedotan panjang terhadap penisku, sehingga tak setetspun spermaku keluar dari mulutnya, semua di telan.” hmm…enak..buat sarapan pagi he.he.he.he.” tawanya pelan..”

Udah sana mas mandi lagi, lalu pakai baju, bentar lagi Dina kayaknya pulang, lalu mas tiduran di depan yah, biar seolah mas dari semalam tidur di depan” hmm…cerdik juga nih otaknya” batinku…Aku lantas bergegas mandi dan memakai pakaianku yang semalam, talu tiduran di kasur tikar di depan tv di ruang depan, dan ternyata aku benar-benar terlelap..

Bram….Teman Suamiku

30 Jul

Download

 

Sebut saja nama ku Sinta, wanita umur 28 thn dan orang-orang bilang bentuk tubuhku amatlah proposional, tinggi 170 cm berat 55kg dan ukuran buah dada 34B, ditunjang wajah cantik (itu juga orang-orang yang bilang) dan kulit putih cerah. Sebelumnya aku memang sering bekerja menjadi SPG pada pameran mobil dan banyak orang mengelilingi mobil yang aku pamerkan bukan utk melihat mobil tetapi untuk melihatku.

Menikah dengan Roni, 30 thn, seorang pekerja sukses. Kami memang sepakat utk tidak punya anak terlebih dahulu dan kehidupan seks kami baik-baik saja, Roni dapat memenuhi kebutuhan seks ku yang boleh dibilang agak hyper..sehari bisa minta 2 sesi pagi sebelum Roni berangkat kerja dan malam sebelum tidur.

Untuk cerita dewasa lain yang lebih hot klik disini.

Dan cerita ini berawal dari kesuksesan Roni bekerja di kantornya dan mendapat kepercayaan dari sang atasan yang sangat baik. Kepercayaan ini membuat dia sering harus bekerja overtime, pada awalnya aku bisa menerima semua itu tetapi kelamaan kebutuhan ini harus dipenuhi juga dan itulah yang membuat kami sering bertengkar karena kadang Roni harus berangkat lebih pagi dan lewat tengah malam baru pulang.

Dan mulailah cerita ini ketika Roni mendapat tanggung jawab untuk menangani suatu proyek dan dia dibantu oleh rekan kerjanya Bram dari luar kota. Pertama diperkenalkan Bram langsung seperti terkesima dan sering menatapku, hal itu membuatku risih. Bram cukup tampan gagah dan kekar.
Karena tuntutan pekerjaan dan efisiensi, kantor Roni memutuskan agar Bram tinggal di rumah kami utk sementara. Dan memang mereka berdua sering bekerja hingga larut malam di rumah kami. Bram tidur di kamar persis di seberang kamar kami.

Sering di malam hari aku berpamitan tidur matanya yang nakal suka mencuri pandang diantara sela-sela baju tidur yang aku kenakan. Aku memang senang tidur bertelanjang agar jika Roni datang bisa langsung bercinta.
Pernah suatu saat ketika pagi hari kami aku dan Roni bercinta di dapur waktu masih pagi sekali dengan posisiku duduk di meja dan Roni dari depan, tiba-tiba Bram muncul dan melihat kami, dia menempelkan telunjuk dimulutnya agar aku tidak menghentikan kegiatan kami, karena kami sedang dalam puncaknya dan Roni yang membelakangi Bram dan aku juga tidak tega menghentikan Roni, akhirnya ku biarkan Bram melihat kami bercinta tanpa Roni sadari hingga kami berdua orgasme. Dan aku tahu Bram melihat tubuh telanjangku ketika Roni melepaskan penisnya dan terjongkok di bawah meja.

Setelah kejadian itu Bram lebih sering memperhatikan tiap lekuk tubuhku.
Sampai suatu waktu ketika pekerjaan Roni benar2 sibuk sehingga hampir seminggu tidak menyentuhku. Di hari Jum’at kantor tempat Roni bekerja mengadakan pesta dinner bersama di rumah atasan Roni . Rumahnya terdiri dari dua lantai yang sangat mewah di lantai 2 ada semacam galeri barang2 antik. Kami datang bertiga dan malam itu aku mengenakan pakaian yang sangat seksi, gaun malam warna merah yang terbuka di bagian belakang dan hanya dikaitkan di belakang leher oleh kaitan kecil sehingga tidak memungkinkan memakai BH, bagian bawahpun terdapat sobekan panjang hingga sejengkal di atas lutut, malam itu saya merasa sangat seksi dan Bram pun sempat terpana melihatku keluar dari kamar. Sebelum berangkat aku dan Roni sempat bercinta di kamar dan tanpa sepengetahuan kami ternya Bram mengintip lewat pintu yang memang kami ceroboh tidak tertutup sehingga menyisakan celah yang cukup untu melihat kami dari pantulan cermin, sayangnya karena letih atau terburu-buru mau pergi Roni orgasme terlebih dahulu dan aku dibiarkannya tertahan. Dan Bram mengetahui hal itu.

Malam itu ketika acara sangat ramai tiba-tiba Roni dipanggil oleh atasannya untuk diperkenalkan oleh customer. Roni berkata padaku untuk menunggu sebentar, sambil menunggu aku ke lantai 2 untuk melihat barang2 antik, di lantai 2 ternyata keadaan cukup sepi hanya 2-3 orang yang melihat-lihat di ruangan yang besar itu. Aku sangat tertarik oleh sebuah cermin besar di pojokan ruangan, tanpa takut aku melihat ke sana dan mengaguminya juga sekaligus mengagumi keseksian tubuhku di depan cermin, tanpa ku sadari di sampingku sudah berada Bram .

“Udah nanti kacanya pecah lho..cakep deh..!”, canda Bram
“Ah bisa aja kamu Bram”,balasku tersipu.
Setelah berbincang2 di depan cermin cukup lama Bram meminta tolong dipegangkan gelasnya sehingga kedua tanganku memegang gelasnya dan gelasku.
“Aku bisa membuat kamu tampak lebih seksi”,katanya sambil langsung memegang rambutku yang tergerai dengan sangat lembut.

Tanpa bisa mengelak dia telah menggulung rambutku sehingga menampak leherku yang jenjang dan mulus dan terus terang aku seperti terpesona oleh keadaan diriku yang seperti itu. dan memang benar aku terlihat lebih seksi. Dan saat terpesona itu tiba-tiba tangan Bram meraba leherku dan membuatku geli dan detik berikutnya Bram telah menempelkan bibirnya di leher belakangku, daerah yang paling sensitif buatku sehingga aku lemas dan masih dengan memegang gelas Bram yang telah menyudutkanku di dinding dan menciumi leherku dari depan. “Bram apa yang kamu lakukan..lepaskan aku Bram..lepas..!”,rontaku tapi Bram tahu aku tidak akan berteriak di suasana ini karena akan mempermalukan semua orang.

Bram terus menyerangku dengan kedua tanganku memegang gelas dia bebas meraba buah dadaku dari luar dan terus menciumi leherku, sambil meronta-ronta aku merasakan gairahku meningkat, apalagi saat tiba-tiba tangan Bram mulai meraba belahan bawah gaunku hingga ke selangkanganku. “Bram..hentikan Bram aku mohon..tolong Bram..jangan lakukan itu..”,rintihku, tapi Bram terus menyerang dan jari tengah tangannya sampai di bibir vaginaku yang ternyata telah basah karena serangan itu. Dia menyadari kalau aku hanya mengenakan G-string hitam dengan kaitan di pinggirnya, lalu dengan sekali sentakan dia menariknya dan terlepaslah G-stringku. Aku terpekik pelan apalagi merasakan ada benda keras mengganjal pahaku. Ketika Bram sudah semakin liar dan akupun tidak dapat melepaskan, tiba-tiba terdengar suara

Roni memanggil dari pinggir tangga yang membuat pegangan himpitan Bram terlepas, lalu aku langsung lari sambil merapikan pakaian ku menuju Roni yang tidak melihat kami dan meninggalkan Bram dengan G-string hitamku. Aku sungguh terkejut dengan kejadian itu tapi tanpa disadari aku merasakan gairah yang cukup tinggi merasakan tantangan melakukan di tempat umum walau dalam kategori diperkosa.

Ternyata pesta malam itu berlangsung hingga larut malam dan Roni mengatakan dia harus melakukan meeting dengan customer dan atasannya dan dia memutuskan aku untuk pulang bersama Bram. Tanpa bisa menolak akhirnya malam itu aku diantar Bram, diperjalanan dia hanya mengakatakan “Maaf Sinta..kamu sungguh cantik malam ini.” Sepanjang jalan kami tidak berbicara apapun. Hingga sampai dirumah aku langsung masuk ke dalam kamar dan menelungkupkan diri di kasur, aku merasakan hal yang aneh antara malu aku baru saja mengalami perkosaan kecil dan perasaan malu mengakui bahwa aku terangsang hebat oleh serangan itu dan masih menyisakan gairah. Tanpa sadar ternyata Bram telah mengunci semua pintu dan masuk ke dalam kamarku, aku terkejut ketika mendengar suaranya’, “Sinta aku ingin mengembalikan ini”‘ katanya sambil menyerahkan G-stringku berdiri dengan celana pendek saja, dengan berdiri aku ambil G-stringku dengan cepat, tapi saat itu juga Bram telah menyergapku lagi dan langsung menciumiku sambil langsung menarik kaitan gaun malamku, maka bugilah aku diahadapannya.

Tanpa menunggu banyak waktu aku langsung dijatuhkan di tempat tidur dan dia langsung menindihku. Aku meronta-ronta sambil menendang-nendang?”Bram..lepaskan aku Bram..ingat kau teman suamiku Bram..jangan..ahh..aku mohon”, erangku ditengah rasa bingung antara nafsu dan malu, tapi Bram terus menekan hingga aku berteriak saat penisnya menyeruak masuk ke dalam vaginaku, ternyata dia sudah siap dengan hanya memakai celana pendek saja tanpa celana dalam.

“Ahhhh?Braam..kau..:’ Lalu mulailah dia memompaku dan lepaslah perlawananku, akhirnya aku hanya menutup mata dan menangis pelan..clok..clok..clok..aku mendengar suara penisnya yang besar keluar masuk di dalam vaginaku yang sudah sangat basah hingga memudahkan penisnya bergerak. Lama sekali dia memompaku dan aku hanya terbaring mendengar desah nafasnya di telingaku, tak berdaya walau dalam hati menikmatinya. Sampai kurang lebih satu jam aku akhirnya melenguh panjang “Ahhh?..” ternyata aku orgasme terlebih dahulu, sungguh aku sangat malu mengalami perkosaan yang aku nikmati. Sepuluh menit kemudian Bram mempercepat pompaannya lalu terdengar suara Bram di telingaku “Ahhh..hmmfff?” aku merasakan vaginaku penuh dengan cairan kental dan hangat sekitar tiga puluh deti kemudian Bram terkulai di atasku.
“Maaf Sinta aku tak kuasa menahan nafsuku..”bisiknya pelan lalu berdiri dan meninggalkanku terbaring dan menerawang. hinga tertidur Aku tak tahu jam berapa Roni pulang hingga pagi harinya.

Esok paginya di hari sabtu seperti biasa aku berenang di kolam renang belakang,, Roni dan Bram berpamitan untuk nerangkat ke kantor. Karena tak ada seorang pun aku memberanikan diri untuk berenang tanpa pakaian. Saat asiknya berenang tanpa disadari, Bram ternyata beralasan tidak enak badan dan kembali pulang, karena Roni sangat mempercayainya maka dia izinkan Bram pulang sendiri. Bram masuk dengan kunci milik Roni dan melihat aku sedang berenang tanpa pakaian. Lalu dia bergerak ke kolam renag dan melepaskan seluruh pakaiannya, saat itulah aku sadari kedatangannya,

“Bram..kenapa kau ada di sini?” tanyaku, “Tenang Sinta suaimu ada di kantor sedang sibuk dengan pekerjaannya”, aku melihat tubuhnya yang kekar dan penisnya yang besar mengangguk angguk saat dia berjalan telanjang masuk ke dalam kolam “Pantas sajaku semalam vaginaku terasa penuh sekali”‘pikirku. Aku buru-buru berenang menjauh tetai tidak berani keluar dr dalam kolam karena tidak mengenakan pakaian apapun juga. Saat aku bersandar di pingiran sisi lain kolam, aku tidak melihat ada tanda2 Bram di dalam kolam. Aku mencari ke sekeliling kolam dan tiba-tiba aku merasakan vaginaku hangat sekali, ternyata Bram ada di bawah air dan sedang menjilati vaginaku sambil memegang kedua kakiku tanpa bisa meronta.

Akhirnya aku hanya bisa merasakan lidahnya merayapai seluruh sisi vaginaku dan memasuki liang senggamaku..aku hanya menggigit bibir menahan gairah yang masih bergelora dari semalam. Cukup lama dia mengerjai vaginaku, nafasnya kuat sekali pikirku. Detik berikutnya yang aku tahu dia telah berada di depanku dan penisnya yang besar telah meneyruak menggantian lidahnya? “Arrgghh..” erangku menahan nikmat yang sudah seminggu ini tidak tersentuh oleh Roni. Akhirnya aku membiarkan dia memperkosaku kembali dengan berdiri di dalam kolam renang.

Sekarang aku hanya memeluknya saja dan membiarkan dia menjilati buah dadaku sambil terus memasukan penisnya keluar masuk. Bahkan saat dia tarik aku ke luar kolam aku hanya menurutinya saja, gila aku mulai menikamti perkosaan ini, pikirku, tapi ternyata gairahku telah menutupi kenyataan bahwa aku sedang diperkosa oleh teman suamiku. Dan di pinggir kolam dia membaringkanku lalu mulai menyetubuhi kembai tubuh mulusku..”Kau sangat cantik dan seksi Sinta..ahh” bisiknya ditelingaku.

Aku hanya memejamkan mata berpura-pura tidak menikmatinya, padahal kalau aku jujur aku sangat ingin memeluk dan menggoyangkan pantatku mengimbangi goyangan liarnya. Hanya suara eranggannya dan suara penisnya maju mundur di dalam vaginaku, clok..clok..clep..dia tahu bahwa aku sudah berada dalam kekuasaannya. Beberapa saat kemudian kembali aku yang mengalami orgasme diawali eranganku “Ahhh..” aku menggigit keras bibirku sambil memegang keras pinggiran kolam, “Nikmati sayang?”demikian bisiknya menyadari aku mengalami orgasme. Sebentar kemudian Bram lah yang berteriak panjang, “Kau hebat Sinta..aku cinta kau..AAHHH..HHH” dan aku merasakan semburan kuat di dalam vaginaku. Gila hebat sekali dia bisa membuatku menikmatinya pikirku.

Setelah dia mencabut penisnya yang masih terasa besar dan keras, aku reflek menamparnya dan memalingkan wajahku darinya. Aku tak tahu apakah tamparan itu berarti kekesalanku padanya atau karena dia mencabut penisnya dari vaginaku yang masih lapar.

Setelah Roni pulang herannya aku tidak menceritakan kejadian malam lalu dan pagi tadi, aku berharap Roni dapat memberikan kepuasan padaku. Dengan hanya menggenakan kimono dengan tali depan aku dekati Roni yang masih asik di depan komputernya di dalam kamar, lalu aku buka tali kimonoku dan kugesekan buah dadaku yang besar itu ke kepalanya dari belakang, berharap da berbalik dan menyerangku. Ternyta yang kudapatkan adalah bentakannya

“Sinta..apakah kamu tak bisa melihat kalau aku sedang sibuk? Jangan kau ganggu aku dulu..ini untuk masa depan kita” teriaknya keras. Aku yakin Bram juga mendengar teriakannya. Aku terkejut dan menangis, lalu aku keluar kamar dengan membanting pintu, lalu aku pergi ke pinggir kolam dan duduk di sana merenung dan menahan nafsu. Dari kolam aku bisa melihat bayangan di Roni di depan komputer dan lampu di kamar Bram. Tampak samar-samar Bram keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Karena di luar gelap tak mungkin dia melihatku.

Tanpa sadar aku mendekat ke jendelanya dan memperhatikan Bram mengeringkan tubuh. Gila kekar sekali tubuhnya dan yang menarik perhatianku adalah penisnya yang besar dan tegang mengangguk-angguk bergoyang sekanan memanggilku. Aku malu sekali mengagumi dan mengaharapkan kembali penis itu masuk ke dalam vaginaku yang memang masih haus. Perlahan aku membelai-belai vaginaku hingga terasa basah, akhirnya aku memutuskan untuk memintanya pada Bram, dengan hati yang berdebar kencang dan nafsu yang sudah menutupi kesadaran, aku nekat masuk ke dalam kamar Bram dan langsung mengunci pintu dari dalam.

Bram sangat terkejut “Sinta..apa yang kamu lakukan?”, aku hanya menempelkan telunjuk di bibirku dan memberi isyarat agar tidak bersuara karena Roni ada di kamar seberang. Langsung aku membuka pakaian tidurku dan terpampanglah tubuh putih mulusku tanpa sehelai benagpun di hadapannya, Bram hanya terperangah dan menatap kagum pada tubuhku. Bram tersenyum sambil memperlihatkan penisnya yang semakin membesar dan tampak berotot. Dengan segera aku langsung berlutut di hadapannya dan mengulum penisnya, Bram yang masih terkejut dengan kejadian ini hanya mendesah perlahan merasakan penisnya aku kulum dan hisap dengan nafsuku yang sudah memuncak.

Sambil mulutku tetap di dalam penisnya aku perlahan naik ke atas tempat tidur dan menempatkan vaginaku di mulut Bram yang sudah terbaring, dia mengerti maksudku dan langsung saja lidahnya melahap vaginaku yang sudah sangat basah, cukup lama kami dalam posisi itu, terinat akan Roni yang bisa saja tiba-tiba datang aku langsung mengambil inisiatif untuk merubah posisi dan perlahan duduk di atas penisnya yang sudah mengacung tegang dan besar panjang.

Perlahan aku arahkan dan masukan ke dalam lubang vaginaku, rasanya berbeda dengan saat aku diperkosanya, perlahan tapi pasti aku merasaskan suatu sensasi yang amat besar sampai akhirnya keseluruhan batang penis Bram masuk ke dalam vaginaku “Ahh..sssfff..Braaam!” erangku perlahan menahan suara gairahku agar tidak terdengar, aku merasakan seluruh penisnya memenuhi vaginaku dan menyentuh rahimku.

Sungguh suatu sensasi yang tak terbayangkan, dan sensasi itu semakin bertambah saat aku mulai menggoyangkan pantatku naik turun sementara tangan Bram dengan puasnya terus memainkan kedua buah dadaku memuntir-muntir putingku hingga berwarna kemerahan dan keras “ahh..ahh..” demikian erangan kami perlahan mengiringi suara penisnya yan keluar masuk vaginaku clok..clok..clok? Tak tahan dengan nafsunya mendadak Bram duduk dan mengulum buah dadaku dengan rakusnya bergantian kiri kanan bergerak ke leher dan terus lagi. Aku sungguh tak dapat menahan gairah yang selama ini terpendam.

Mungkin karena nafsu yang sudah sangat tertahan atau takut Roni mendengar tak kuasa aku melepaskan puncak gairahku yang pertama sambil mendekap erat Bram dan menggigit pundaknya agar tidak bersuara, kudekap erta Bram seakan tak dapat dilepaskan mengiringi puncak orgasmeku. Bram merasakan penisnya disiram cairan hangat dan tahu bahwa aku mengalami orgasme dan membiarkanku mendekapnya sangat erat sambil memelukku dengan belaian hangatnya.

Selesai aku orgasme sekiat 30 detik, Bram membalikan aku dengan penisnya masih tertancap di dalam vaginaku. Bram mulai mencumbuku dengan menjilati leher dan putingku perlahan, entah mengapa aku kembali bernafsu dan membalas ciumannya denga mesra, lidah kami saling berpagutan dan Bram merasakan penisnya kembali dapat keluar masuk dengan mudah karena vaginaku sudah kembali basah dan siap menerima serangan berikutnya. Dan Bram langsung memompa penisnya dengan semangat dan cepat membuat tubuhku bergoyang dan buah dadaku bergerak naik turun dan sungguh suara yang timbul antara erangan kami berdua yang tertahan derit tempat tidur dan suara penisnya keluar masuk di vaginaku kembali membakar gairahku dan aku bergerak menaik turunkan pantatku untuk mengimbangi Bram.

Dan benar saja 10 menit kemudian aku sampai pada puncak orgasme yang kedua, dengan meletakan kedua kakiku dan menekan keras pantatnya hingga penisnya menyentuh rahimku. Kupeluk Bram dengan erat yang membiarkan aku menikmati deburan ombak kenikmatan yang menyerangku berkali-kali bersamaan keluarnya cairanku. Kugigit bibirku agar tidak mengeluarkan suara, cukup lama aku dalam keadaan ini dan anehnya setelah selesai aku berada dalam puncak ternyata aku sudah kembali mengimbangi gerakan Bram dengan menaik turunkan pantatku.

Saat itulah kudengar pintu kamarku terbuka dan detik berikutnya pintu kamar Bram diketuk Roni, “Bram..kau sudah tidur?”, demikian ketuk Roni. Langsung saja Bram melepaskan pelukannya dan menyuruhku bersembunyi di kamar mandi. Sempat menyambar pakaian tidurku yang tergeletak di lantai aku langsung lari ke kamar mandi dan mengunci dari luar. Sungguh hatiku berdebar dengan kerasnya membayangkan apa jadinya jika aku ketahuan suamiku.

Bram dengan santai dan masih bertelanjang membuka pintu dan mengajak Roni masuk, Roni sempat terkejut melihat Bram telanjang,”Sedang apa kamu Bram” tanpa curiga dengan tempat tidur yang berantakan yang kalau diperhatikan dari dekat ada cairan kenikmatanku. Bram hanya tersenyum dan mengatakan,”Mau tau aja..” Dasar Roni dia langsung membicarakan suatu hal pekerjaan dan mereka terlibat pembicaraan itu. Kurang lebih sepuluh menit mereka berbicara dan sepuluh menit juga hatiku sungguh berdebar-debar tapi anehnya dengan keadaan ini nafsuku sungguh semakin menjadi-jadi.

Setelah Roni keluar, Bram kembali mengunci pintu kamar dan mengetuk kamar mandi perlahan,”Sinta buka pintunya..sudah aman”. Begitu aku buka pintunya Bram langsung menarik aku dan mendudukanku di meja dekat kamar mandi, langsung saja dibukanya kedua kakiku dan bless penisnya kembali memenuhi vaginaku “Ahhh..ahh..” erangan kami berdua kembali terdengar perlahan sambil terus menggoyangkan pantatnya maju mundur Bram melahap buah dadaku dan putingku.

Sepuluh menit berlalu dan goyang Bram semakin cepat sehingga aku tahu dia akan mencapai puncaknya, dan akupun merasakan hal yang sama “Braaam lebih cepat sayang aku sudah hampir keluar..” desahku “Tahan sayang kita bersamaan keluarnya”, dan benar saja saat kurasakan maninya menyembur deras dalam vaginaku aku mengalami orgasme yang ketiga dan lebih hebat dari yang pertama dan kedua, kami saling berpelukan erat dan menikmati puncak gairah itu bersamaan. “Braaammm..,” desahku tertahan. “Ahhh Sinta..kau hebat..” demikian katanya. Akhirnya kami saling berpelukan lemas berdua, sungguh suatu pertempuran yang sangat melelahkan. Saat kulirik jam ternyata sudah dua jam kami bergumul. “Terima kasih Bram..kau hebat..” kataku dengan kecupan mesra dan langsung memakai pakaian tidurku kembali dan kembali ke kamarku.

Roni tidak curiga sama sekali dan tetap berkutat dengan komputernya dan tidak menghiraukanku yang langsung berbaring tanpa melepas pakaianku seperti biasanya karena aku tahu ada bekas ciuman Bram di sekujur buah dadaku. Malam itu aku merasa sangat bersalah pada Roni tapi di lain sisi aku merasa sangat puas dan tidur dengan nyenyaknya.

Esoknya seperti biasa di hari Minggu aku dan Roni berenang di pagi hari tetapi mengingat adanya Bram, kami yang biasanya berenang bertelanjang akhirnya memutuskan memakai pakaian renag, aku syukuri karena hal ini dapat menutupi buah dadaku yang masih memar karena gigitan Bram. Saat kami berenang aku menyadari bahwa Bram sedang menatap kami dari kamarnya. Dan saat Roni sedang asyik berenang kulihat Bram memanggilku dengan tangannya dan yang membuat aku terkejut dia menunjukan penisnya yang sudah mengacung besar dan tegang. Seperti di hipnotis aku nekat berjalan ke dalam.”Ron aku mau ke dalam ambil makanan ya..!” kataku pada Roni, dia hanya mengiyakan sambil terus berenang, Roni memang sangat hobi berenang bisa 2 jam nonstop tanpa berhenti.

Aku dengan tergesa masuk ke dalam dan menuju kamar Bram. Di sana Bram sudah menunggu dan tak sabar dia melucuti pakain renangku yang memang hanya menggunakan tali sebagai pengikatnya. “Gila kamu Bram..bisa ketahuan Roni lho,” protesku tanpa perlawanan karena aku sendiri sangat bergairah oleh tantangan ini. dan dengan kasar dia menciumi punggungku sambil meremas buah dadaku “Tapi kamu menikmatinya khan?!,” goda Bram sambil mencium leher belakangku. Dan aku hanya mendesah menahan nikmat dan tantangan ini. Yang lebih gila Bram menarikku ke jendela dan masih dari belakang dia meremas-remas buah dadaku dan meciumi punggung hingga pantatku, “Gila kau Bram, Roni bisa melihat kita,” tapi anehnya aku tidak berontak sama sekali dan memperhatikan Roni yang benar-benar sangat menikamti renangnya.

Di kamar Bram pun aku sangat menikmati sentuhan Bram. “Sinta kamu suka ini khan?” tanyanya sambil dengan keras menusukan penisnya ke dalam vaginaku dari belakang. “AHH..Bram..” teriakku kaget dan nikmat, sekarang aku berani bersuara lebih kencang karena tahu Roni tidak akan mendengarnya. Langsung saja Bram memaju mundurkan penisnya di vaginaku..”Ahh.. Bram lebih kencang..fuck me Bram..puaskan aku Bram..penismu sungguh luar biasa..Bram aku sayang kamu..” teriakku tak keruan dengan masih memperhatikan Roni.

Bram mengimbangi dengan gerakan yang liar hingga vaginaku terasa lebih dalam lagi tersentuh penisnya dengan posisi ini,”Sinta..khhaau hhebat..” desahnya sambil terus menekanku, kalau saja Roni melihat sejenak ke kamar Bram maka dia akn sangat terkejut meilhat pemandangan ini, istrinya sedang bercinta dengan rekan kerjanya. Ternyata kami memang bisa saling mengimbangi, kali ini dalam waktu 20 menit kami sudah mencapai puncak secara bersamaan “Teruuus Bram lebih khheeenncang..ahhhh aku keluar Braaaaam”, teriaku. “Aaakuu juga Tyyaaasss..nikkkkmat ssekali mmmeemeekmu..aahhhhh.” teriaknya bersamaan dengan puncak kenikmatan yang datang bersamaan. Setelah itu aku langsung mencium bibirnya dan kembali mengenakan pakaian renangku dan kembali berenang bersama Roni yang tidak menyadari kejadian itu.

Setelah itu hari-hari berikutnya sungguh mendatangkan gairah baru dalam hidupku dengan tantangan bercinta bersama Bram. Pernah suatu saat ketika akhirnya Roni mau bercinta denganku di suatu malam hingga akhirnya dia tertidur kelelahan, aku hendak mengambil susu di dapur dan karena sudah larut malam aku nekat tidak mengenakan pakaian apapun. Saat aku membungkuk di depan lemari es sekelebat ku lihat bayangan di belakangku sebelum aku menyadari Bram sudah di belakangku dan langsung menubruku dari belakang.

Penisnya langsung menusuk vaginaku yang membuatku hanya tersedak dan menahan nikmat tiba-tiba ini. Kami bergumul di lantai dapur lalu dia mengambil kursi dan duduk di atasnya sambil memangku aku, “Bram kamu nakal” desahku yang juga menikmatinya dan kami bercinta hingga hampir pagi di dapur. Sungguh bersama Bram kudapatkan gairah terpendamku selama ini.
Akhirnya ketika proyek kantor Roni selesai Bram harus pergi dari rumah kami dan malam sebelum pergi aku dan Bram menyempatkan bercinta kembali.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.